Monthly Archives: February 2013

Homesick

Kadang saya teringat dengan teman-teman SMA saya. Bukan hanya sekadar ingat, mungkin saya juga kangen. Saya punya teman yang hebat, dengan setiap pribadi yang luarbiasa. Mereka semua satu-satu mengajarkan saya tanpa mereka sadari. Padahal saya sulit sekali punya teman yang benar-benar dekat. Tapi beberapa orang sepertinya pengecualian. Sahabat ya namanya? 😀 

Tapi lebih dari itu, saya rindu rumah. Ibu bukanlah orang terdekat saya. Ia bukan tempat saya membagi cerita. Tapi orang yang paling ingin saya temui sekarang Ibu, di rumah dengan semua personilnya yang lengkap. Biar begitu, kalau saya pulang pasti saya masih canggung seperti biasa. Hehe

Mellow karena masih terbangun di tengah malam sepertinya.  

Advertisements
Tagged

Suratan

Halo maya!

Saya akan bercerita sedikit mengenai diri saya. Saat ini, saya tercatat sebagai mahasiswi dari jurusan yang sangat diminati; Pendidikan Dokter. Bukan, bukan di kampus yang saya impi-impikan dahulu, tapi di Universitas Brawijaya, Malang. Jauh… dari tempat saya tinggal di Ibukota. Tentunya bukan salah satu yang menjadi tujuan favorit di sekolah saya dulu. Bahkan, hanya saya sendiri yang melanjutkan studi di FKUB.

Tapi toh ini saya sendiri yang pilih ketika pendaftaran seleksi dulu. Saudara di Malang tidak ada satupun. Daerah Malang juga saya tidak tahu. Teman dari SMA juga tidak ada… saya sendirian. Cuma tahu dulu saya liburan SD dengan riang gembira di sebuah villa di daerah Batu dan memetik apel. Hehe. Lantas apa yang mendorong saya dulu… Apa jangan-jangan saya terlampau bodoh untuk membeli kucing dalam karung.

Mungkin saya memang bodoh, karena bermodal nekat “yang penting diterima di FK!”. Tapi rasanya memang ini takdir saya untuk tinggal disini, bertemu dengan orang-orang yang sekarang ada di sekitar saya, dan mengenyam pendidikan kedokteran. Sadar atau tidak sadar, Dia yang mengarahkan saya untuk memilih ini.

Ketika dulu sepupu saya bercerita tentang Unibraw, saat itu saya kenal dengan nama ini. Dan menjadi salah satu options dalam benak saya. Ketika SNMPTN undangan sedang menjadi topik hangat saya justru secara tidak sengaja menyebut-nyebutnya. Dan dalam konsultasi dengan guru Bimbingan Konseling justru teman yang saya temui bercerita tentang tempat ini. Bahkan percakapan saya dengan seorang teman, saya ingat, “Gue bingung… kalo misalnya gue tulis yang mungkin gue masuk ya Unibraw gitu misalnya, terus gimana?” Bahkan saat saya shalat istiqarah beberapa kali saya tidak yakin dengan nama pilihan universitas yang saya sebut, tentunya bukan di Universitas Brawijaya.

I guess He is trying to say that I wasn’t belong there.

Sadar atau tidak sadar, Dia selalu mengarahkan saya lewat setiap scene yang terjadi. Seperti juga bagaimana dulu saya memilih untuk bercita-cita menjadi dokter. Seperti juga bagimana saya dapat memasuki SMA 8, mengikuti Perwakilan Kelas, gagal mengikuti AFS, juga pertemuan dan perpisahan saya dengan setiap orang. Pada akhirnya saya selalu bersyukur…

“Tidak terasa ya, sudah dua kali kita merayakan ulang tahun mu. Tahun-tahun berikutnya, bakal merayakan bareng lagi tidak ya? 😀 

Biar siapapun suami kamu nanti, kamu tetap ingat dengan nama ku”

Kadang momen yang sangat indah rasanya seperti surat perpisahan. Dia telah lama mencoba memberi tahu saya lewat kejadian-kejadian kecil. Saya yakin saya pergi dan berpisah karena suatu alasan, yang saya masih belum tahu apa. Seperti sebelum-sebelumnya, dia sedang mencoba membocorkan kepada saya skenario indah milikNya, sedikit demi sedikit.

Tagged

A mark of piety

Hijab is an act of faith, a symbol, for all the world to see.

piety /ˈpʌɪəti/ strong religious beliefs and behaviour.

Finally. It’s been seven days since I decide to wear hijab. But it takes 18 years for me to think. I really take a long time to assured my heart. So, this is it.  Bismillah.

Aku sebut itu tempat kembali

Jakarta, 1 Februari 2013

Halo maya, akhirnya saya mulai menulis juga di tempat ini. Banyak waktu yang sudah berlalu sejak pertama kali saya membuat blog. Hal yang terjadi padaku setiap hari juga tidak kalah banyaknya. Kehidupan saya di Malang, kegiatan-kegiatan baru saya, keluarga, nilai akademis, dan lainnya. Baik itu suka ataupun duka, tidak semuanya dapat saya ceritakan. Kadang saya lebih memilih untuk menahannya sampai saya berdamai dengan setiap hal yang terjadi. Saya akan memulai tulisan pertama saya dengan tema cinta.

Cinta itu ada banyak. Berawal dari cinta terhadap Sang Pencipta, keluarga kecil saya, teman-teman dekat, musik dan film tertentu, atau bahkan cinta kepada seorang yang sama sekali asing. Saya mencintai kedua orangtua saya, adik dan kakak saya, juga Mbak Siti dan Pak Yanto. Saya juga mencintai kehidupan kost saya yang dipenuhi oleh orang-orang yang penuh kasih sayang, rasanya seperti keluarga sendiri. Begitu indah rasa yang diciptakan Allah sehingga saya selalu punya tempat untuk pulang.

Rasa yang begitu indah itu, entah bagaimana dapat tumbuh kepada seseorang. Ya, yang tadinya asing. Kemanapun saya pergi, siapapun yang saya temui, sampai sekarang memang dia yang masih terus membuat hati ini penuh. Dia, yang mengisi hati saya selama tiga tahun terakhir. Dia, yang hidupnya penuh kelembutan dan kesabaran.

Mungkin, saya mencintainya.  Aduh, akhirnya saya mengakui juga. Entah mengapa saya merasa malu..

Beberapa bulan yang lalu saya berpisah dengannya. Sedihnya begitu hebat, tapi sedapat mungkin saya coba untuk menahan tangis. Namun saya tahu, orang yang baik itu juga menjadi sedih karena saya. Sampai akhirnya setelah enam bulan lebih berlalu, saya bertemu kembali dengannya. Saya kira, saat itu saya dan dia telah dapat berdamai dengan kenangan. Mengubur dalam-dalam apa yang pernah terjadi. Senang sekali dapat mengobrol biasa dengannya saat itu, rasa sedih yang biasa mampir seperti hilang bekasnya. Mungkin karena saya dapat bertemu kembali dengannya setelah sekian lama. Saya belajar untuk tidak berharap apapun kepadanya, biarlah rasa ini dia tidak perlu tahu lagi.

Katanya, kalau bukan dia orangnya, Allah akan menghapuskan rasa ini dari hati kita. Habis memang perjalanan kami masih panjang. Aku tidak tahu pasti apakah dia orangnya, yang akan bersamaku di masa depan. Kalaupun iya… Ah saya tidak sanggup melanjutkan. Hehe. Mungkin memang bukan dia, atau mungkin juga sekarang belum saat yang tepat. Kemarin baru saja saya goyah untuk mencoba menunjukkan kepada orang itu (dan tentu saja berakhir kecewa). Bahkan sampai akhirnya saya meneteskan air mata juga.. Memilih untuk menggantungkan perasaan ini kepada Allah saja rasanya lebih aman. Dia yang memilihkan skenario terbaik untuk saya, biarlah saya kembali ke cara yang ditunjukkan oleh-Nya. Saya ingin belajar seperti Fatimah, yang diberikan jodoh terbaik untuknya dengan cara yang indah.

Saya tidak memilih, tapi pada akhirnya saya digiring pulang lagi ke yang Maha Mencintai, kan?

Tagged ,