Aku sebut itu tempat kembali

Jakarta, 1 Februari 2013

Halo maya, akhirnya saya mulai menulis juga di tempat ini. Banyak waktu yang sudah berlalu sejak pertama kali saya membuat blog. Hal yang terjadi padaku setiap hari juga tidak kalah banyaknya. Kehidupan saya di Malang, kegiatan-kegiatan baru saya, keluarga, nilai akademis, dan lainnya. Baik itu suka ataupun duka, tidak semuanya dapat saya ceritakan. Kadang saya lebih memilih untuk menahannya sampai saya berdamai dengan setiap hal yang terjadi. Saya akan memulai tulisan pertama saya dengan tema cinta.

Cinta itu ada banyak. Berawal dari cinta terhadap Sang Pencipta, keluarga kecil saya, teman-teman dekat, musik dan film tertentu, atau bahkan cinta kepada seorang yang sama sekali asing. Saya mencintai kedua orangtua saya, adik dan kakak saya, juga Mbak Siti dan Pak Yanto. Saya juga mencintai kehidupan kost saya yang dipenuhi oleh orang-orang yang penuh kasih sayang, rasanya seperti keluarga sendiri. Begitu indah rasa yang diciptakan Allah sehingga saya selalu punya tempat untuk pulang.

Rasa yang begitu indah itu, entah bagaimana dapat tumbuh kepada seseorang. Ya, yang tadinya asing. Kemanapun saya pergi, siapapun yang saya temui, sampai sekarang memang dia yang masih terus membuat hati ini penuh. Dia, yang mengisi hati saya selama tiga tahun terakhir. Dia, yang hidupnya penuh kelembutan dan kesabaran.

Mungkin, saya mencintainya.  Aduh, akhirnya saya mengakui juga. Entah mengapa saya merasa malu..

Beberapa bulan yang lalu saya berpisah dengannya. Sedihnya begitu hebat, tapi sedapat mungkin saya coba untuk menahan tangis. Namun saya tahu, orang yang baik itu juga menjadi sedih karena saya. Sampai akhirnya setelah enam bulan lebih berlalu, saya bertemu kembali dengannya. Saya kira, saat itu saya dan dia telah dapat berdamai dengan kenangan. Mengubur dalam-dalam apa yang pernah terjadi. Senang sekali dapat mengobrol biasa dengannya saat itu, rasa sedih yang biasa mampir seperti hilang bekasnya. Mungkin karena saya dapat bertemu kembali dengannya setelah sekian lama. Saya belajar untuk tidak berharap apapun kepadanya, biarlah rasa ini dia tidak perlu tahu lagi.

Katanya, kalau bukan dia orangnya, Allah akan menghapuskan rasa ini dari hati kita. Habis memang perjalanan kami masih panjang. Aku tidak tahu pasti apakah dia orangnya, yang akan bersamaku di masa depan. Kalaupun iya… Ah saya tidak sanggup melanjutkan. Hehe. Mungkin memang bukan dia, atau mungkin juga sekarang belum saat yang tepat. Kemarin baru saja saya goyah untuk mencoba menunjukkan kepada orang itu (dan tentu saja berakhir kecewa). Bahkan sampai akhirnya saya meneteskan air mata juga.. Memilih untuk menggantungkan perasaan ini kepada Allah saja rasanya lebih aman. Dia yang memilihkan skenario terbaik untuk saya, biarlah saya kembali ke cara yang ditunjukkan oleh-Nya. Saya ingin belajar seperti Fatimah, yang diberikan jodoh terbaik untuknya dengan cara yang indah.

Saya tidak memilih, tapi pada akhirnya saya digiring pulang lagi ke yang Maha Mencintai, kan?

Advertisements
Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: