Monthly Archives: January 2015

Jauh

Now playing : Terlalu – Maliq & D’Essential

Saya yang sekarang, sepertinya lagi mengalami krisis identitas. Layaknya manusia berumur 20 tahunan pada umumnya, saya mulai banyak memikirkan tentang kehidupan saya. Baik masa kini, masa yang sudah berlalu, dan masa depan.

Biasanya muncul kalau malam, kalau lagi mandi, atau kalau waktu-waktu shalat ( ga khusyuk bgt ya:( )

Taruhlah saya ini seseorang yang idealis. Setuju dengan emansipasi wanita, punya cita-cita, dan ingin meraih banyak hal. Ingin membangun keluarga. Ingin segera punya teman berbagi, baik itu anak ataupun pasangan hidup. Rasanya saya ingin sekali menjadi Ibu, yang bisa mengenalkan dunia ini pada manusia yang merupakan darah daging saya nantinya. Ingin sekali saya punya anak yang shaleh atau shalihah..

Di saat itu juga saya ingat diri saya sekarang, da aku mah apa atuh. Pinginnya punya anak yang pintar, tapi diri ini melenakan waktu, tetap saja males belajar padahal masih muda. Sia-sia. Padahal waktu yang bergulir tak akan pernah kembali lagi, seberapa pun saya memohon.

Dan pikiran-pikiran idealis saya ini memang sifatnya individual. Ia tercipta atas renungan saya sendirian. Tapi apalah artinya renunganku itu tanpa interaksi. Jika boleh berkata jujur, ada kalanya saya ini membayangkan berbagi rencana-rencana masa depan saya dengan seseorang, kemudian sama-sama mendoakannya kepada Yang Maha Kuasa.

I used to imagined someone when things start to crumble in head. When I imagined what specialties I want to take, what path should I take to achieve that, what’s the next step should we do after finished these long journey to become doctor,  I don’t know why it’s you that popped up. It’s always you, the one I want to share my dream with. Discussed those things above and together making plans. (And it ends up stored deeply in my heart)

But why?

Mungkin saya hanya ingin teman berbagi, meskipun belum tentu butuh. Rasanya lebih baik saya simpan, dan ceritakan pada-Nya. Allah tempat berbagi sejuta umat sejagad raya. Tempat pengabul doa-doa. Saya tahu, kamu juga sedang berjuang meraih masa depan mu. Iya, jadi laki-laki yang hebat ya. Mungkin bukan nama saya yang ada di hati mu.. bahkan mungkin, untuk berbagi dunia mu tidak pernah terbersit (berkebalikan dengan saya yang selalu tiba-tiba ingin menceritakan semuanya ke kamu) Tidak apa-apa. Saya juga berjuang semoga jadi wanita yang hebat.

Saya doakan.

Syalala

Kamu tahu.. jika ada orang yang kupikirkan ketika hujan turun
Apakah dia baik-baik saja
Orang yang kupikirkan saat jalanan macet, karena aku khawatir kamu jadi bete
Orang yang pertama kali aku sadar ada ditengah kerumunan orang..
Juga yang pertama kali kusadari jika belum hadir,
Kamu.
Mungkin dia telat bangun,
Mungkin kah dia begadang semalaman?
Apakah dia sakit? Mengapa hari ini kamu mengenakan jaket?
Ya itu kamu, yang suka tiba-tiba terbersit di pikiranku.

P.S: Kalau aku yang membahasakan memang jadi aneh ya, but that’s what happened..

.
.
.
.
.

Sampai nanti ketika
Hujan tak lagi meneteskan duka
Meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka

Aku selalu suka
Sehabis hujan di bulan Desember,
Di bulan Desember

Karena aku selalu suka
Sehabis hujan di bulan Desember,
Di bulan Desember

Seperti pelangi,
Setia menunggu hujan reda

Efek Rumah Kaca – Desember