Category Archives: Personal

A Childhood Dream

Hello again, blogger!

Growing up in Indonesia as a 90’s generation, we, kiddos, we’re used to watching Japanese cartoon every Sunday; Doraemon, Detective Conan, Chibi Maruko-chan, Saint Seiya, Ninja Hattori, P-man, Crayon Shinchan, Cardcaptor Sakura, Minky Momo, etc. -you name it. But for a geek like me, watching them wasn’t enough so then my parents also subscribed a tv cable. My favorite channel was Animax, of course.

The bigger impact was mostly made by my older sister. From her, I began to know about reading comics and listening to Japanese band. We were a big fan of L’arc~en~ciel. We began to listening to their every new album, buying cassettes and CDs, even watching their concerts and world tour from VCDs! Not to mention the other band we like. Huge collection of them were stored in our old PC.

Quite surprising, eh? Yup. But it’s all the truth. Myself in the elementary school was that geek. I grew up watching animes and reading mangas. Comic books from Japan known as Manga were keep being sold in the bookstore in Indonesia until now. I read them, over and over again, I buy them every time we went to a bookstore, I wait patiently for the next chapter, I spent my time drawing in the class and making stories, I recreate the character in my own drawing and send them to the publisher. Even my childhood dream was: being a comic writer.

As I hit my teenage life, I began to like their dramas (known as J-dorama) and anime movies as my school schedule won’t let me spend too much time on that kind of thing, I need to focus on my study. And of course, there wasn’t a room for a being a comic writer in my family. Instead, I become a doctor.

So that’s how a Japanese culture affects me. I always want to go there…

They say childhood was the time of inspiration and dream, and adulthood is when we bring them to reality. There was once a time that I have to bury my dream. Facing unacceptance from a one-year Intercultural program called AFS, I feel sad almost every day. And I cried really hard one time. It’s almost unfair because I was officially accepted, but the institution was facing a hard time as they were short on money. Months later, after the other delegates have gone and living in their dream countries, there was a letter addressed to me. A decision was made: I can go to Japan for 3 weeks. Wha! As I remember, it was scheduled for my 5th semester of high school. Critical time for a final year student to study because we were facing a selection for SNMPTN undangan. Facing the headmaster, and I got no permission from the school. And that’s how it is, a childhood dream of mine had to rebury one more time.

(to be continued)

Advertisements
Tagged

Suratan

Halo maya!

Saya akan bercerita sedikit mengenai diri saya. Saat ini, saya tercatat sebagai mahasiswi dari jurusan yang sangat diminati; Pendidikan Dokter. Bukan, bukan di kampus yang saya impi-impikan dahulu, tapi di Universitas Brawijaya, Malang. Jauh… dari tempat saya tinggal di Ibukota. Tentunya bukan salah satu yang menjadi tujuan favorit di sekolah saya dulu. Bahkan, hanya saya sendiri yang melanjutkan studi di FKUB.

Tapi toh ini saya sendiri yang pilih ketika pendaftaran seleksi dulu. Saudara di Malang tidak ada satupun. Daerah Malang juga saya tidak tahu. Teman dari SMA juga tidak ada… saya sendirian. Cuma tahu dulu saya liburan SD dengan riang gembira di sebuah villa di daerah Batu dan memetik apel. Hehe. Lantas apa yang mendorong saya dulu… Apa jangan-jangan saya terlampau bodoh untuk membeli kucing dalam karung.

Mungkin saya memang bodoh, karena bermodal nekat “yang penting diterima di FK!”. Tapi rasanya memang ini takdir saya untuk tinggal disini, bertemu dengan orang-orang yang sekarang ada di sekitar saya, dan mengenyam pendidikan kedokteran. Sadar atau tidak sadar, Dia yang mengarahkan saya untuk memilih ini.

Ketika dulu sepupu saya bercerita tentang Unibraw, saat itu saya kenal dengan nama ini. Dan menjadi salah satu options dalam benak saya. Ketika SNMPTN undangan sedang menjadi topik hangat saya justru secara tidak sengaja menyebut-nyebutnya. Dan dalam konsultasi dengan guru Bimbingan Konseling justru teman yang saya temui bercerita tentang tempat ini. Bahkan percakapan saya dengan seorang teman, saya ingat, “Gue bingung… kalo misalnya gue tulis yang mungkin gue masuk ya Unibraw gitu misalnya, terus gimana?” Bahkan saat saya shalat istiqarah beberapa kali saya tidak yakin dengan nama pilihan universitas yang saya sebut, tentunya bukan di Universitas Brawijaya.

I guess He is trying to say that I wasn’t belong there.

Sadar atau tidak sadar, Dia selalu mengarahkan saya lewat setiap scene yang terjadi. Seperti juga bagaimana dulu saya memilih untuk bercita-cita menjadi dokter. Seperti juga bagimana saya dapat memasuki SMA 8, mengikuti Perwakilan Kelas, gagal mengikuti AFS, juga pertemuan dan perpisahan saya dengan setiap orang. Pada akhirnya saya selalu bersyukur…

“Tidak terasa ya, sudah dua kali kita merayakan ulang tahun mu. Tahun-tahun berikutnya, bakal merayakan bareng lagi tidak ya? 😀 

Biar siapapun suami kamu nanti, kamu tetap ingat dengan nama ku”

Kadang momen yang sangat indah rasanya seperti surat perpisahan. Dia telah lama mencoba memberi tahu saya lewat kejadian-kejadian kecil. Saya yakin saya pergi dan berpisah karena suatu alasan, yang saya masih belum tahu apa. Seperti sebelum-sebelumnya, dia sedang mencoba membocorkan kepada saya skenario indah milikNya, sedikit demi sedikit.

Tagged

Aku sebut itu tempat kembali

Jakarta, 1 Februari 2013

Halo maya, akhirnya saya mulai menulis juga di tempat ini. Banyak waktu yang sudah berlalu sejak pertama kali saya membuat blog. Hal yang terjadi padaku setiap hari juga tidak kalah banyaknya. Kehidupan saya di Malang, kegiatan-kegiatan baru saya, keluarga, nilai akademis, dan lainnya. Baik itu suka ataupun duka, tidak semuanya dapat saya ceritakan. Kadang saya lebih memilih untuk menahannya sampai saya berdamai dengan setiap hal yang terjadi. Saya akan memulai tulisan pertama saya dengan tema cinta.

Cinta itu ada banyak. Berawal dari cinta terhadap Sang Pencipta, keluarga kecil saya, teman-teman dekat, musik dan film tertentu, atau bahkan cinta kepada seorang yang sama sekali asing. Saya mencintai kedua orangtua saya, adik dan kakak saya, juga Mbak Siti dan Pak Yanto. Saya juga mencintai kehidupan kost saya yang dipenuhi oleh orang-orang yang penuh kasih sayang, rasanya seperti keluarga sendiri. Begitu indah rasa yang diciptakan Allah sehingga saya selalu punya tempat untuk pulang.

Rasa yang begitu indah itu, entah bagaimana dapat tumbuh kepada seseorang. Ya, yang tadinya asing. Kemanapun saya pergi, siapapun yang saya temui, sampai sekarang memang dia yang masih terus membuat hati ini penuh. Dia, yang mengisi hati saya selama tiga tahun terakhir. Dia, yang hidupnya penuh kelembutan dan kesabaran.

Mungkin, saya mencintainya.  Aduh, akhirnya saya mengakui juga. Entah mengapa saya merasa malu..

Beberapa bulan yang lalu saya berpisah dengannya. Sedihnya begitu hebat, tapi sedapat mungkin saya coba untuk menahan tangis. Namun saya tahu, orang yang baik itu juga menjadi sedih karena saya. Sampai akhirnya setelah enam bulan lebih berlalu, saya bertemu kembali dengannya. Saya kira, saat itu saya dan dia telah dapat berdamai dengan kenangan. Mengubur dalam-dalam apa yang pernah terjadi. Senang sekali dapat mengobrol biasa dengannya saat itu, rasa sedih yang biasa mampir seperti hilang bekasnya. Mungkin karena saya dapat bertemu kembali dengannya setelah sekian lama. Saya belajar untuk tidak berharap apapun kepadanya, biarlah rasa ini dia tidak perlu tahu lagi.

Katanya, kalau bukan dia orangnya, Allah akan menghapuskan rasa ini dari hati kita. Habis memang perjalanan kami masih panjang. Aku tidak tahu pasti apakah dia orangnya, yang akan bersamaku di masa depan. Kalaupun iya… Ah saya tidak sanggup melanjutkan. Hehe. Mungkin memang bukan dia, atau mungkin juga sekarang belum saat yang tepat. Kemarin baru saja saya goyah untuk mencoba menunjukkan kepada orang itu (dan tentu saja berakhir kecewa). Bahkan sampai akhirnya saya meneteskan air mata juga.. Memilih untuk menggantungkan perasaan ini kepada Allah saja rasanya lebih aman. Dia yang memilihkan skenario terbaik untuk saya, biarlah saya kembali ke cara yang ditunjukkan oleh-Nya. Saya ingin belajar seperti Fatimah, yang diberikan jodoh terbaik untuknya dengan cara yang indah.

Saya tidak memilih, tapi pada akhirnya saya digiring pulang lagi ke yang Maha Mencintai, kan?

Tagged ,